Yang Hilang dan Tetap Ada saat Natal di Masa Pandemi
![]() |
| Suasana Natal di di Gereja Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu di tengah Pandemi Covid-19, Jumat, 25 Desember 2020. (Foto: Dok. Pribadi Ave Airiza Gunanto) |
Bogor –
Perayaan Natal tahun 2019 masih lekat di benak Monica Dameria Natasya. Saat itu
dia duduk di antara ribuan umat Protestan di Gereja Huria Kristen Batak
Protestan (HKBP) Menteng untuk mengikuti misa Natal.
Suasana seperti itu biasanya selalu berulang setiap Natal tiba. Mulai dari misa malam Natal, misa Natal, kemudian berkunjung ke rumah kerabat dan sahabat, bercengkrama sambil menikmati hidangan yang disajikan, hingga jalan-jalan bersama keluarga.
Tapi, tahun ini suasana Natal berubah drastis. Monica tidak pernah menyangka bahwa misa malam Natal dan misa Natalnya harus dilakukan secara dalam jaringan (daring) atau online. Seperti malam itu, Kamis, 24 Desember 2020.
Selama kurang lebih satu jam
Monica dan keluarga mengikuti misa dari rumah. Masing-masing
mereka menggenggam sebatang lilin di tangannya. Perasaannya campur aduk, antara
bahagia menyambut Natal dan sedih karena harus merayakannya dalam suasana
pandemi.
Ada yang Hilang
Pandemi ini menghilangkan
momen-momen yang biasanya dilakukan Monica, mulai dari momen berkumpul bareng
sanak saudara hingga suasana Natal virtual yang disebutnya seperti ibadah
mingguan biasa. Dia mengaku tak bisa menghayati seperti saat melaksanakan natal
di gereja.
“Rasanya kayak ibadah mingguan
biasa, kurang bisa menghayati karena acara Natal yang biasanya berlangsung
selama 1 jam 30 menit, sekarang cuma satu jam,” ucapnya lirih.
![]() |
| Potret keluarga Monica Dameria Natasya yang sedang menggenggam sebatang lilin saat merayakan Natal di kediamannya. (Foto: Dok. Pribadi Monica Dameria Natasya) |
Meskipun demikian, dia tetap
merasa khusyuk saat melakukan ibadah walau hanya secara virtual. “Itu semua
tergantung niat dalam diri masing-masing, kalau niat mau ibadah pasti bisa
sekhusyuk seperti ibadah di gereja,” katanya.
Walaupun perayaan Natal tahun ini
dilakukan di rumah, Christy berusaha untuk membuat suasana Natal tetap terasa
istimewa bagi keluarganya. Dia menghias pohon Natal, foto bersama, makan
bersama, dan nonton film bersama.
Perempuan berdarah Manado ini juga
tetap melaksanakan tradisi turun-temurun saat merayakan Natal, yakni menyajikan
hidangan sup brenebon yang berbahan paduan kacang merah dan sayuran.
Sementara, Natanail Wicaksono,
seorang mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, memilih untuk merayakan
Natal secara virtual bersama keluarganya di Jakarta. Menurutnya, suasana Natal
pasti akan berbeda setiap tahun, meski tidak ada pandemi.
"Euforia Natal
pasti berbeda setiap tahunnya, mungkin karena umur saya yang terus bertambah
dewasa."
Pria yang kerap disapa Nael ini
tidak mengadakan kegiatan khusus selain misa pada perayaan Natal. “Paling kalau
ada teman yang ngundang ke rumah, atau mengadakan acara kalau saya bisa datang
ya datang ke sana, kalau gak ya di rumah saja,” tuturnya.
![]() |
| Perayaan Natal di kediaman Christy Alma Kaparang, Jumat 25 Desember 2020. (Foto: Dok. Pribadi Christy Alma Kaparang) |
Mengenai kekhusyukan, Nael mengaku lebih khusyuk melaksanakan ibadah di gereja daripada secara online. Tetapi, tingkat kekhusyukan saat ibadah dikembalikan pada motivasi masing-masing orang.
Ibadah secara online atau offline bukan
suatu permasalahan baginya. Hal yang menjadi permasalahan adalah motivasi
masing-masing orang melaksanakan ibadah ke gereja.
“Mereka ke gereja untuk apa?
Sekadar menyelesaikan kewajiban yang dilaksanakan seminggu sekali, nurutin keinginan
orang tua, atau memang tujuan ke gereja murni untuk mengucap syukur ke Tuhan
atas hidup yang indah ini,” katanya saat dihubungi melalui pesan teks.
Sesuatu yang hilang dalam
perayaan Natal kali ini juga dirasakan oleh seorang jemaat gereja di Jakarta,
Ernes. Menurut Ernes, ibadah secara daring sangat berbeda dengan tatap muka.
Ada rasa yang tidak dapat tergantikan, khususnya ketika berjabat tangan,
berbincang, dan bernyanyi dengan meriah bersama jemaat lain.
Selain tidak melaksanakan misa
Natal secara tatap muka, Ernes juga tidak bisa berkumpul bersama keluarga
besarnya di Yogyakarta. Ernes dan keluarganya menggantikan kegiatan tersebut
dengan makan bersama dan berkumpul dengan saudara-saudara terdekat.
“Natal tahun ini di rumah sama
keluarga, makan masakan mama, dan beberapa saudara ada yang datang,” lanjutnya.
Meski tidak bisa berjabat tangan
dan berkumpul di gereja. yang terpenting menurutnya adalah rasa suka cita
menyambut Natal tiba. Dia berharap pandemi segera berlalu agar seluruh hari
raya umat beragama bisa dilaksanakan seperti sediakala dengan normal.
Senada dengan Ernes, Natal
secara online juga dirasakan oleh Natasya. Ia tidak dapat
berkumpul dengan keluarga besar di hari yang paling ia nantikan. Natasya
mengganti pertemuan secara langsung itu dengan video call.
“Kalau ke gereja langsung dapet banget
suasana Natalnya dan bisa bertemu orang banyak,” kata dia.
Biasanya saat Natal dia selalu
berjalan-jalan bersama keluarga di sekitar Jakarta atau pergi ke Puncak, Bogor.
Namun kali ini semuanya tidak bisa dilakukan.
Batasan dan Aturan Jemaat di
Gereja
Suasana di sejumlah gereja pada
malam Natal tahun ini pun terasa sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya.
Jumlah jemaat yang datang ke sejumlah gereja tampak jauh lebih sedikit jika
dibandingkan saat perayaan Natal tahun lalu.
Bangku-bangku gereja yang dahulu
bisa diisi sebanyak 10 orang, kini hanya bisa diisi oleh 3 orang.
Ave Airiza Gunanto, salah satu
jemaat Gereja Paroki Keluarga Kudus Pasar Minggu, merupakan jemaat yang cukup
beruntung. Dia masih bisa merasakan khidmatnya misa Natal di gereja, meski sejumlah
protokol kesehatan harus dia taati, seperti mengenakan masker dan mencuci
tangan sebelum memasuki gedung gereja.
Selain penerapan protokol
kesehatan yang sangat ketat, jemaat yang berusia di bawah 18 tahun dan di atas
60 tahun tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan di gereja.
“Misa selama pandemi ini hybrid,
ada yang online ada yang offline, kalau
yang gak bisa, nonton siaran langsung di Youtube Paroki
Pasar Minggu,”ucapnya.
![]() |
| Suasana Natal di Gereja Paroki Kudus Pasar Minggu. Para jemaat tetap diwajibkan memakai masker selama kegiatan Natal berlangsung dan tetap menjaga jarak. (Foto: Dok. Pribadi Ave Airiza Gunanto) |
Jemaat lain yang berkesempatan
melaksanakan misa di gereja adalah Frishca. Dia beribadah secara langsung di
Gereja Pantekosta Jakarta, tapi ibadah Natalnya dilakukan sebelum tanggal 25
Desember, tepatnya pada Minggu, 20 Desember 2020.
“Gerejaku punya kebiasaan ibadah
Natal di hari Minggu yang paling mendekati tanggal 25, jadi bukan pas tanggal 25
nya,” kata Frischa.
Meski beribadah di gereja,
Frischa dan jemaat lain tetap menerapkan protokol kesehatan dan pihak gereja
juga membatasi jumlah jemaat yang masuk ke dalam gereja.
Kegiatan yang mereka lakukan
adalah beribadah, berdoa, bernyanyi, mendengarkan firman Tuhan, dan beberapa
pertunjukkan ditampilkan melalui video yang ditayangkan.
“Ada gereja yang merayakan Natal
pas tanggal 25, ada yang sebelum atau sesudah dari tanggal 25. Semua tergantung
kebijakan gerejanya saja.”
Sebelum pandemi, Frishca dan
keluarga biasa merayakan Natal dengan makan bersama, tukar kado, menikmati
pertunjukan-pertunjukan di gereja, serta rangkaian kegiatan bersama lainnya.
Kini, walaupun penuh keterbatasan
akibat pandemi, Frishca tetap bersyukur karena masih diberikan kesehatan
sehingga bisa merayakan Natal bersama keluarga terdekat dan beribadah di gereja
meski terbatas oleh jarak.
(Nabila Tsania)
*Telah dipublilkasikan di kanal Cerita Tagar,id (27/12/20)



