Perempuan Pencetus Kampung Ramah Lingkungan di Bogor
![]() |
| Lahan yang dimanfaatkan warga RW 16 untuk budidaya tanaman dan ikan. (Foto: Nabila Tsania) |
Di sebelah timur, pekarangan
rumah warga berderet menghadap ke barat, berhias beragam tanaman. Berhadapan
dengan rumah-rumah itu, beberapa warga menyantap makanan di atas
bangku bambu, yang didudukkan tepat di atas kolam ikan.
Puluhan ikan di bawah bangku
bambu berkejaran, seolah menggoda warga yang menyantap makanan siang itu untuk
mengejarnya.
Pemandangan dan suasana itu
bukan terdapat di pedesaan atau tempat yang jauh dari kota, melainkan di
kawasan RW 16, Perumahan Bojong Depok Baru 2 Kelurahan Sukahati, Cibinong,
Bogor. Warga di sana mampu menyulap lingkungan perumahannya menjadi asri.
Perempuan Penggerak
Seorang perempuan dengan rambut
terurai sebahu mempersilakan duduk, kemudian dia duduk membelakangi pepohonan
rindang. Yuliana Rini, perempuan itu, memulai kisahnya sebagai pegiat
lingkungan.
![]() |
| Yuliana Rini, Pegiat Kampung Ramah Lingkungan di Perumahan Bojong Depok Baru 2 RW 16. (Foto: Nabila Tsania) |
Yuliana mengaku hatinya tergerak untuk peduli terhadap lingkungan saat dirinya masih bekerja di salah satu media massa. Dia pun menjadi penggerak untuk mewujudkan kampung ramah lingkungan di wilayahnya.
Selama bergabung di perusahaan
media bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang), dia sering terjun langsung
ke lapangan untuk melakukan riset mengenai potensi daerah dan lingkungan.
Berbagai pengalaman liputan,
membuatnya tersadar akan pentingnya kelestarian lingkungan. Rini pernah
melakukan survei mengenai sampah warga. Saat itu ada yang mengganjal di hatinya
saat melihat sampah warga yang tak pernah menumpuk, padahal tak ada pihak Dinas
Lingkungan Hidup (DLH) yang mengangkut sampah warga.
“Saya kaget, ternyata
sampah-sampah tersebut langsung dibuang ke Sungai Ciliwung.”
Peristiwa banjir besar yang
melanda Jakarta pada tahun 2012, mengingatkannya pada orang yang membuang
sampah sembarangan ke sungai. Akhirnya, dia membuat gebrakan berupa ‘Bank
Sampah Gaul’ serta pemilahan sampah organik dan nonorganik di
lingkungan perumahannya.
Mengajak warga untuk peduli
terhadap lingkungan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai protes
dan penolakan sudah Rini hadapi. Tak sedikit warga yang menolak mentah-mentah
dan memandang sebelah mata akan idenya tersebut.
“Ada yang protes ‘ngapain milah-milah
sampah, kan sudah bayar, biar petugas kebersihan saja yang bertugas,"
katanya sembari menirukan bentuk protes warga.
Padahal, petugas kebersihan
hanya diberi upah sebesar Rp 650 ribu per bulan. Mereka juga tak memiliki
tunjangan tambahan jika tiba-tiba sakit. Rini berpendapat, akan lebih baik jika
warga turut memudahkan tugas mereka.
Pelbagai halang rintang tak
membuat tekad Rini menurun. Dia terus berusaha untuk membentuk kawasan yang
ramah lingkungan. “Saya terus mencari siapa tokoh masyarakat yang punya
pengaruh. Kalo sudah tahu penggeraknya siapa, pasti semua
program akan berjalan,” ujarnya.
Wanita lulusan Universitas
Gadjah Mada ini menyadari bahwa untuk membenahi masalah lingkungan, terutama
sampah, takkan terwujud tanpa ada bantuan pihak lain. Lalu, dia menggandeng
ketua RW dan RT, untuk merealisasikan tekadnya.
Konsep yang diusungnya berbasis
kolaborasi pentahelix antara akademisi, dunia bisnis,
pemerintah, komunitas, dan media.
"Dahulu posisi saya sebagai
media, setelah keluar dari media, posisi saya saat ini bisa sebagai komunitas
bisa juga sebagai akademisi," katanya.
Mulai dengan Bank Sampah
Yuliana pun mengawali
pergerakannya dengan program bank sampah, yang saat itu dilakukan hanya di satu
RT. Setelah berjalan beberapa bulan RT lain tertarik, berlanjut ke tingkat RW,
hingga lintas kelurahan.
![]() |
| Salah satu warga RW 16 sedang memilah sampah organik (hijau) dan non organik (kuning). (Foto: Nabila Tsania) |
Antusias warga semakin menunjukkan peningkatan, yang tadinya hanya sekitar 158 nasabah, kini sudah bertambah menjadi 250 nasabah.
Selain menerima barang bekas
seperti kaleng minuman bekas, botol plastik, dan beberapa barang lain, bank
sampah yang dibentuknya juga melakukan kegiatan pembuatan kerajinan tangan dari
barang bekas.
Untuk memudahkan warga dalam
melakukan program pilah sampah, setiap rumah di RW 16 diberi dua tong sampah
yang sudah dicat hijau dan kuning. Tong berwarna hijau diisi sampah organik,
sedangkan tong berwarna kuning diisi dengan sampah nonorganik.
Awalnya, beberapa warga sempat
mengaku kebingungan saat memilah mana jenis sampah organik dan mana yang
termasuk jenis sampah nonorganik. Namun, akhirnya warga terbiasa
untuk memilah sampah. Hal ini semakin memudahkan proses pembuangan sampah di
tempat pembuangan akhir. Tumpukkan sampah organik dimanfaatkan untuk pembuatan
pupuk.
Saat ini Kampung Ramah
Lingkungan juga sudah dibimbing oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas
Lingkungan Hidup, Koperasi dan PUPR.
Selanjutnya, wanita yang juga
aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi ini melanjutkan perjuangannya,
salah satunya dengan membentuk konsep taman edukasi di RW 16 pada tahun 2014.
Perjuangan yang dilakukannya
tidak sia-sia. Dia pernah mendapat hibah dari Koperasi KSB berupa
instalasi hidroponik yang tak terpakai. Instalasi hidroponik itu
kemudian digunakan untuk budidaya tanaman dalam rumah kaca (green house).
Mulanya green house tersebut
terletak di sebelah pos sekretariat RW 16. Namun, budidaya tanaman saat itu
hanya bertahan selama setahun.
Lalu, ketua RW 16 Trijoko,
menawarkan lahan taman RW 16 untuk dijadikan tempat budidaya tanaman. Dari sini
lah Taman Edukasi terbentuk. “Taman itu seperti etalasenya RW 16, harapannya
warga dapat merawat fasilitas tersebut dengan baik,” ucap Rini.
Bermacam-macam tanaman menghiasi
taman itu. Mulai dari tanaman obat, tanaman hias hingga sayuran. Setiap tanaman
di taman itu dilengkapi dengan papan yang bertuliskan nama ilmiah tiap tanaman.
Sehingga, memudahkan warga untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang ada.
Saat ini Rini sedang bekerja
sama dengan Kementerian Parekraf (pariwisata dan ekonomi kreatif) sebagai tim
ahli. Dia membuat konsep eduwisata dan sedang mendampingi beberapa desa wisata
di Cigombong, Kampung Lengkong, dan Sukmajaya.
![]() |
| Taman Edukasi menyambut tamu yang akan memasuki wilayah Kampung Ramah Lingkungan RW 16. (Foto: Nabila Tsania) |
“Saya harap kampung ramah lingkungan RW 16 juga bisa mejadi kawasan eduwisata,” harap Rini.
Rini mengaku akan berkolaborasi
dengan Posyandu RW 16 untuk mendorong warga gemar menanam pada tahun 2021.
Meski, tanpa program itu pun sudah banyak warga yang menanam tanaman di
pekarangan rumah.
Yuni, selaku ketua posyandu RW
16, berpendapat bahwa kegiatan pelestarian lingkungan yang dilakukan warga
sangat positif. Dia juga senang bahwa nantinya posyandu dilibatkan dalam
pelaksanaan program selanjutnya.
“Gambaran program yang natinya
akan dilaksanakan berupa lomba ketahanan pangan, warga diharapkan bisa mengolah
tanaman di rumah sebagai bahan pangan keluarga,” ujarnya.
Yuni juga berharap bahwa ke
depannya kampung ramah lingkungan RW 16 dapat menginspirasi orang banyak dan
tentunya tujuan awal dari kegiatan yang dilaksanakan bisa tercapai.
Hal yang ingin ditonjolkan Rini
adalah menggali potensi dan kreativitas warga. Dia ingin para warga tak hanya
menanam saja, tapi mampu mengolah apa yang mereka tanam. “Misalnya ada warga
yang menanam bayam, nah bayam itu bisa diolah menjadi keripik, saya lihat warga
di sini punya potensi kuat,” katanya.
Sementara, Trijoko, Ketua RW 16
menjabarkan beberapa kegiatan yang sudah terealisasikan sehingga diklaim
sebagai kampung ramah lingkungan, yaitu pemilahan sampah organik dan
nonorganik, pengangkutan sampah dengan kendaraan roda 4, koperasi kelola sampah
berdikari, Bank Sampah Gaul, dan fasilitas UMKM warga.
“Saya berharap program ini terus
dilanjutkan dan harus berhasil untuk mengurangi masalah sampah,” ucapnya
berharap.
Dukungan terhadap
program-program peduli lingkungan juga ditunjukkan oleh para remaja di situ.
“Di masa muda kayak gini harus lebih aktif, nambah wawasan,
bosan di rumah terus cuma main gadget,” ujar Rizky, salah satu
remaja masjid.
Warga RW 16 juga memiliki
fasilitas budidaya ikan yang nantinya bisa dijadikan bisnis untuk warga
sekitarnya. Tambak ikan kian bertambah, saat ini terdapat kurang lebih 10 kolam
yang berisi ikan nila, bawal, dan lele.
"Di sini mau ikut budidaya
ikan bawal, malu minta uang terus ke orang tua, mau usaha kecil-kecilan,
siapa tau kan bisa menghasilkan uang dari budidaya
ini," kata Rizky.
(Nabila Tsania)
*Telah dipublikasi di kanal Cerita Tagar.id (15/12/20)



