Bertahan Jual Alat Pertanian di Sukabumi Kala Pandemi
![]() |
| Partini, 46 tahun, menunjukkan produk benih cabai berkualitas tinggi, di kiosnya, Jalan Goalpara, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu, 3 Januari 2021. (Foto: Nabila Tsania) |
Bogor- Hamparan
hijau yang membentang di sepanjang Jalan Goalpara, Kecamatan Sukaraja,
Sukabumi, Jawa Barat, seakan menggoda kedua netra untuk tak berkedip
menatapnya. Petak-petak sawah di sisi kanan dan kiri jalan bak lukisan alam
yang tak berpigura.
Butir-butir biji padi yang mulai
menguning dan merunduk seperti menunggu tangan-tangan para petani memanennya.
Siang itu, Minggu, 3 Januari
2021, hawa dingin terasa menyertai kencangnya embusan angin. Perlahan hujan pun turun
bersama kabut yang melayang pekat di cakrawala. Aroma petrichor (aroma
alami saat hujan) menyelimuti kawasan itu, menenangkan hati.
Beberapa pedagang kaki lima
sibuk membentangkan payung besar untuk melindungi barang dagangannya. Ada juga
yang berlarian sambil menutupi kepala dengan telapak tangannya mencari tempat
untuk berteduh.
Tepat di belakang lapak para
pedagang kaki lima, terdapat sebuah kios yang disesaki oleh tumpukan karung dan
kotak dus. Alat-alat pertanian digantungkan pada langit-langit bangunan dengan
seutas tali berwarna kuning.
![]() |
| Suasana kios milik Partini yang dipenuhi oleh barang-barang keperluan pertanian di Jalan Goalpara, Kecamatan Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat. (Foto: Nabila Tsania) |
Seorang wanita yang mengenakan kemeja kotak-kotak biru dengan balutan jaket oranye sedang menggeser kaca etalase dan mengambil barang yang diperlukan pelanggannya.
Partini, nama wanita itu. Sudah
10 tahun dia menekuni usaha di bidang pertanian. Kiosnya yang diberi nama
Sejati Tani menjual beragam produk kebutuhan pertanian.
Usaha Sesuai Pendidikan
Sebelum berkecimpung di dunia
bisnis, Tini sempat menjadi pegawai di sebuah perusahaan swasta selama 3 tahun
dan menjadi guru selama 8 tahun. Namun dirinya dituntut untuk bisa melakukan
pekerjaan ganda atau biasa disebut dengan istilah multitasking.
Acapkali penyampaian ide dan
pendapatnya bertentangan dengan atasannya. Terbersit di pikiran Tini, jika dia
terus menjalani pekerjaan itu, dia tidak akan pernah maju. Selain itu,
pendapatan yang diperoleh tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup.
Tini pun mengundurkan diri dari
kantornya dan memberanikan diri untuk membangun usaha sendiri. Dia lalu belajar
tentang dunia wirausaha, dan memulai usaha di bidang pertanian, mengingat
daerah tempat tinggalnya merupakan sentra pertanian.
Alumnus jurusan Budidaya
Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, ini pun menjual beragam jenis benih
tanaman, pupuk, serta obat tanaman.
“Ide jualan di bidang ini karena
saya punya bekal ilmu yang cukup tentang pertanian, jadi saya optimis menjalani
usaha ini.”
Tabungannya semasa kerja
diambilnya sebagai modal usaha. Kala itu untuk modal awal dia mengucurkan dana
sekitar Rp 50 juta. Awalnya, Tini hanya membeli produk yang diminta konsumen
saja, sehingga tidak terlalu banyak membutuhkan modal.
“Awal buka usaha cuma jual 2
botol per item, lalu 5 per item, terus 10 per item, 15 per item, lama kelamaan
meningkat ke 1 boks per item, bahkan bisa 50 boks per item,” katanya.
Saat pertama membuka usaha, dia
hanya membuka usaha di kawasan Jalan Baru Sukaraja, Sukabumi saja. Namun
kemudian Tini melebarkan sayap usahanya di kios yang dia beri nama Sejati Tani,
di Jalan Goalpara, Sukabumi.
![]() |
| Produk yang dijual di Toko Sejati Tani berupa benih tanaman dan obat tanaman.yang disusun rapi pada etalase kaca. (Foto: Nabila Tsania) |
Dalam menjalankan usahanya, Tini
dibantu oleh suaminya, Agus Supriyanto. Tini bertugas menjaga toko kedua,
sedangkan Agus berjaga di toko pertama.
“Kalau pagi, saya bantu yang di
toko pertama dulu, karena biasanya petani membutuhkan konsultasi dan kebetulan
saya yang lebih paham bidangnya,” kata Tini.
Berbagi Ilmu dengan Pelanggan
Baginya, dalam menjalani usaha
bukan hanya sekadar mencari uang saja. Dalam menjalani bisnis, orang harus
paham dasar ilmunya. Tini juga tak segan untuk membagikan ilmu yang dia
dapatkan kepada para pelanggannya.
“Saya paham teorinya, sedangkan
para petani tahu praktiknya, jadi saling sharing. Mereka dapat
ilmu dari saya, saya pun dapat ilmu dari mereka,” kata Tini.
Dengan berbagi ilmu diharapkan
memberi manfaat, baik untuk petani baru maupun yang ingin berbisnis di sektor
pertanian, seperti pensiunan atau anak muda.
Dalam waktu delapan bulan
setelah toko keduanya dibuka, tokonya semakin ramai karena informasi dari mulut
ke mulut.
Selain menyediakan produk-produk
dengan kualitas terbaik, Tini juga membuka konsultasi gratis tentang pertanian
untuk para pelanggannya. Dia menjadikan konsultasi itu sebagai bentuk sedekah.
Konsultasi yang diberikan berupa
cara penanaman yang efektif, jenis penyakit yang sering menyerang tanaman,
rekomendasi produk yang tepat guna, dan masih banyak lagi.
“Petani terkadang suka bawa
contoh daun yang terkena penyakit, nah saat mereka ke toko saya, mereka nanya
‘ini penyebabnya apa ya? cara mengatasinya gimana?’ jadi penjual harus paham
solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang ada,” ujarnya.
Saat ini toko milik Tini sudah
cukup dikenal oleh masyarakat Sukabumi. Pelanggannya datang dari berbagai
kecamatan di Sukabumi, mulai dari kalangan petani besar, petani kecil, dan
masyarakat biasa yang ingin budidaya tanaman di pekarangan rumahnya.
Selain memberi konsultasi
gratis, Tini juga memberikan diskon atau potongan harga khusus untuk pelanggan
yang berbelanja dalam jumlah banyak.
Tak jarang Tini juga memberikan
kalender dan kaus untuk mereka bertani. Saat lebaran tiba, biasanya dia
mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk memberikan parsel atau Tunjangan Hari
Raya (THR) kepada pelanggan tetapnya.
![]() |
| Produk lain yang dijual di Toko Sejati Tani berupa pakan hewan.yang disusun rapi pada etalase kaca. (Foto: Nabila Tsania) |
Rahasia untuk Bertahan
Di Sukabumi, toko yang menjual
alat pertanian cukup banyak, tetapi banyak juga yang tutup di tengah jalan.
Salah satu penyebabnya menurut Tini adalah manajemen keuangan yang kurang baik.
“Bidang ini kan modalnya besar
tapi keuntungannya sedikit, jadi gak banyak toko yang bisa
bertahan,” ucapnya dengan nada pelan.
Membuka usaha di bidang
pertanian menurutnya tidak mudah, sebab pelanggan berasal dari tingkat ekonomi
yang berbeda-beda. Selain itu harga produk fluktuatif, harga bahan baku terus
naik, tetapi daya beli semakin berkurang.
“Pelanggan terkadang tidak bisa
mengikuti kenaikan harga, mereka selalu menawar, kalau mereka menawar dengan
harga yang masih wajar, saya kasih,” ucapnya.
Dia mengakui, ada beberapa
barang yang kurang lancar dijual, tapi dia berusaha tetap menyediakan di
tokonya.
“Tips-nya, kalo barang yang
sekiranya kurang laku, belinya cukup 2 atau 5 produk saja. Kalau produk yang
laku banyak, ya stoknya juga harus banyak. Kalau orang mencari barang A, kita
selalu punya persediaannya, jadi kesannya toko kita kecil tapi lengkap” ujarnya
sembari tersenyum.
Sebagai pedagang, Tini juga
harus teliti melihat masa kedaluarsa barang yang dijualnya, seperti obat-obatan
tanaman yang bisa bertahan sekitar 1 hingga 3 tahun. Sementara benih hanya
bertahan 6 bulan hingga 1 tahun. “Saya harus bisa memilih, sekiranya barang
laku, belinya banyak dan harus teliti karena di situ ada expired,”
katanya.
Produk benih yang tidak terjual
karena sudah memasuki masa kedaluarsa, ditanamnya di lahan percobaan seluas 400
meter miliknya. Sering kali benih tersebut masih tumbuh dengan baik. Hasil
percobaannya tersebut dia foto dan ditawarkan ke pembeli.
Tentunya dia jujur mengatakan
kepada pelanggan bahwa benih yang ditanam itu menggunakan produk yang sudah
kedaluwarsa, tetapi masih tumbuh dengan baik. Lalu, produk itu diberi diskon
dan masih laku terjual.
Tini biasa mengambil produk dari
agen yang resmi. Produk benih yang dia jual paling murah berada di kisaran Rp
20 ribu dan yang paling mahal Rp 240 ribu. Banyak toko yang tutup, karena
menjual barang yang tidak asli. “Kalau pelanggan udah kecewa, benihnya jelek,
ya gak akan jadi pelanggan,” katanya.
Kini, setelah usahanya berjalan,
penghasilannya jauh lebih tinggi daripada dia bekerja di perusahaan. Omzet dari
tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Dalam satu bulan, dia bisa meraup
omzet sebesar Rp 300 juta dengan persentase keuntungan sebesar 13%.
![]() |
| Tini menyuguhkan segelas air mineral dan memberikan konsultasi gratis kepada pelanggannya. Dia menyarankan sebuah produk benih yang dibanderol dengan harga Rp 240 ribu. (Foto: Nabila Tsania) |
“Justru saya merasa sejak
pandemi ini orang pada jenuh, jadi pada iseng nanem. Alhamdulillah semakin
rame tokonya,” ucapnya dengan raut wajah bahagia. Meski demikian dia berharap
pandemi ini segera berlalu agar semua orang bisa menjalani usahanya
masing-masing seperti sedia kala.
Seorang pria berkaus hitam
terlihat berbincang dengan Tini sembari menggenggam produk benih cabai. Pria
itu bernama, Hanifah, 55 tahun. Dia berasal dari Kota Bogor yang sedang mencari
benih tanaman sayur untuk di pekarangan rumahnya.
Hanifah mengetahui toko tani
milik Tini dari saudaranya yang tinggal di Sukabumi. “Saya tahu dari saudara
yang tinggal di sini, sebelumnya saya juga pernah ke sini dan membeli beberapa
benih. Hasilnya sangat memuaskan, tanamannya tumbuh subur di pekarangan rumah”
katanya.
(Nabila Tsania)
*Telah dipublikasi di kanal Cerita Tagar.id (04/01/21)




